Untuk Sesuatu yang kukagumi Namanya

Selamat pagi Kintan, sesuatu yang tak jelas wujudnya tapi ada di tempat jauh di sana.

Apa kabarmu hari ini? Kulihat kau sering iseng mengangkatkan kabarmu ke daratan, bersama terumbu-terumbu karang yang bergoyang-goyang ditempa gelombang. Ikan-ikan yang sibuk meliuk-liuk memamerkan keindahan warna tubuhnya. Ada nemo yang belang-belang berwarna campuran putih, hitam, dan kuning keemas-emasan, dan barangkali juga ada warna lainnya yang tak sempat aku perhatikan? Ah, maafkanlah aku yang tak punya banyak waktu untuk mengingatnya satu persatu.

Lagian, tidak hanya mereka yang menarik perhatian, melainkan juga ada kura-kura yang bersikukuh berenang sambil membawa cangkangnya yang lumayan berat, bintang laut yang menggeliat merebak pasir-pasir basah, dan hewan-hewan lainnya yang tak juga sempat aku cari namanya di dalam kamus. Maklum, aku tak suka menekuri istilah-istilah yang dibuat manusia. Alasannya, karena manusia kadangkala membuat istilah-istilah yang nantinya akan dia lupakan juga. Kalau sudah demikian, kuanggap mereka itu tidak setia terhadap kata-kata yang dibuatnya. Bahkan, aku dengar mereka juga sering bertengkar karena perbedaan pemahaman tentang suatu kata. 

Kintanku sayang. Tak usah kau bertanya-tanya aku ini siapa. Kapan kau mengenalku dan dimana? Tak usah kau bersikeras memutar kembali ingatan-ingatan yang telah lama terpendam dalam-dalam di dasar kenanganmu.

bukankah kau senang dengan kesibukan? Kesibukan yang kau butuhkan untuk tetap bisa menjadi sesuatu yang bermakna sehingga mesti melenyapkan ingatan-ingatan yang tidak begitu berguna untukmu. Maka jangan heran, kalau kau tak mengingatku. Itulah Kintan, setiap hal yang kaulakukan pasti ada lebih dan kurangnya. Dan kuanggap, semenjak kau melupakanku, itu bukanlah kekurangan melainkan kelebihan. Sebab, sampai hari ini, aku gagal melakukannya kepadamu. Aku gagal melupakanmu seperti engkau melupakanku.

Tapi bagaimana jika kau mengingatku? Kintan, kau tahu, mengingatku adalah sebuah kemungkinan yang paling kecil yang bisa aku kira darimu. Kau tak mungkin mengingat sesuatu yang tak berharga apa-apa bagi hidupmu. Bukankah kita hanya bertatap-tatapan dalam sekejap kemudian berpencar mengejar angan-angan masing-masing? Bukankah kita hanya seperti datangnya senja yang kemudian terbenam? Seperti angin yang numpang lewat kemudian minggat, seperti umur yang hidup kemudian dimatikan. Bukankah kita seperti biru laut yang segera gelap ketika semua orang sudah mulai beranjak dari tempat duduknya lantaran tak ada yang bisa dinikmati dari murungnya awan kecuali malam?

Kecuali malam, Kintan. Malam yang dingin dan kesepian. Di mana orang-orang saling merindukan kekasihnya yang jauh di entah belahan mana tempat tinggalnya.

Kintanku tercinta, jangan kau terheran-heran mengapa aku menulis surat ini untukmu. Tenang, surat ini bukan untuk kaupahami maksudnya. Surat ini hanyalah secuil cerita tak beraturan yang kuharap dapat kausimpan rapat-rapat dalam sendang dadamu. aku tahu, mungkin kau bosan membaca kalimat-kalimat yang terlampau dilebih-lebihkan. Tapi percayalah, kau akan terus membacanya. Kecuali, kau tiba-tiba hilang karena dihadang oleh kesibukan sebagaimana kebiasaanmu?

Kintan, ingatkah engkau ketika kita saling menerka teka-teki yang saling dilontarkan bagai anak kecil yang main tembak-tembakan. Lalu dengan lepasnya kita tertawa-tawa sampai tiba saatnya kita berpisah. Ketika kita harus kembali ke bawah batu karang kita masing-masing. Ingatkah engkau ketika kita tak berhenti bercakap-cakap meski pulang, karena kita meneruskannya melalui bahasa pikiran dan perasaan yang tak seorang pun mampu paham, kecuali kita.

Bahkan mungkin manusia pun tak akan mengiranya, dan mereka akan terus menganggap kita adalah dua ketakjelasan yang gila dan tak menangkap untuk apa kita diciptakan. Mereka hanya mempertahankan status mereka sebagai manusia yang waras, berakal, dan paling benar. Mereka tidak pernah mau menerima jika ada kehidupan lain yang aneh di luar mereka. Bagaimana pendampatmu tentang kenyataan ini, Kintan? Apakah kau mau berkomentar atau hanya diam?

Baiklah, apapun sikapmu, aku tak akan banyak mengoreknya. Aku akan terus berusaha paham tentang segala hal yang banyak tak kaukatakan tapi mungkin bisa kupahami.

Kintan, sebenarnya, aku tak ingin membuat surat ini untuk siapapun, juga kau. Aku tak begitu paham kau suka di wilayah laut yang bagaimana. Kadar garam dan kedalamannya seberapa. Dan untuk apa kita dipertemukan di suatu tempat yang tak pernah kita duga dan rencanakan.

Cuma, ada sesuatu yang mengganjal dalam bayangan petang yang merendah sore tadi. Aneh. Dan samar-samar aku ditarik-tarik oleh tangan-tangan gaib untuk segera membuka mata lalu melihat lalu menulis tentang sesuatu yang kupikirkan. Dan sialnya, sudah kukatakan sebelumnya – aku gagal melupakanmu, Kintan. Maka kutulislah surat ini kepadamu.

Dari jauh. Dari tempat yang mungkin tak pernah kau percaya bila kukatakan. Ada masjid dan kuburan, tapi aku bukan di dua-duanya. Itulah tempatku, Kintan. Kau boleh menebaknya… J                                                                                                                                                                                                                                                                                             04…-18…

Komentar